Silaturahmi Memperlancar Rezeki?



Kemarin tepatnya pada tanggal 21 Juli 2019 saya menghadiri acara halal bi halal bersama teman-teman pondok di Cileungsi, Bogor (rumah teman) niat hati ingin silaturahmi. Tapi..

Ok kita mulai ceritanya.
Perkiraan pada pukul 07.55 WIB saya bergegas mandi dan persiapan berangkat kesana, saya baru sadar kalau uang saya hanya cukup untuk berangkat saja dari Jakarta-Bogor, niat saya ingin pinjam uang dulu ke teman di asrama tempat saya tinggal, namun pas waktu itu juga teman saya posisi sedang di luar tanpa sepengetahuan saya, dikarenakan waktu sudah agak kesiangan karena acara mulai jam 10.00, tepat pada pukul 08.01 kurang lebih saya pun memutuskan berangkat dan berencana pas pulangnya pinjam uang dulu ke teman yang hadir di sana.

Singkat cerita, sesampainya di sana ternyata masih sepi hanya baru segelintir orang saja yang sudah datang termasuk saya.. huft, padahal waktu mulainya acara sudah ngaret hampir setengah jam-an lebih, entah kenapa ngaret ini menjadi habit yang tak kunjung punah. Sambil menunggu teman-teman yang lain, kami menyeduh satu-dua gelas kopi untuk menghangatkan badan.

Seiring berjalannya acara saya memikirkan cara pulang ke Jakarta lagi, mungkin bisa dibilang saya ini tipikal orang yang gampang khawatir, saya bela-belain tidak makan dari pagi karena tidak ada uang lagi, bahkan hanya untuk sekadar camilan ringan di warung, namun saya yakin pasti di penghujung acara ada konsumsinya, optimis aja dulu hehe. 

Di rangkaian acaranya ada sesi tukar kado yang maksimal budget-nya 10.000 rupiah mau berupa barang apapun itu, sebelumnya saya sudah mempersiapkan kado spesial punya saya sendiri untuk ditukarkan, apa tuh? ada deh.. teman-teman saya yang ikut acara ini pasti masih ingat dan menebak-nebak, bahwa di antara barang-barang bagus yang teman-teman saya tawarkan dalam sesi tukar kado itu ada kotak padat kecil dibungkus ala kadarnya dengan lakban cokelat. Apa hayoo? 

yak, 'sabun mandi batang', yang kebetulan saat itu saya ada stok lebih di lemari. Meanwhile, saya sadar kalau enggak punya uang lagi, jadi saya bawa aja deh, terlebih ngebungkusnya juga di tempat acara pas teman-teman belum berdatangan.

Sesi tukar kado ini dipandu dua teman saya. Nah, cara bermainnya kita saling oper bungkusan barang kita masing-masing kepada teman di sampingnya dengan membentuk halaqoh atau lingkaran dan berhenti saat waktu yang ditentukan. 

"Stop!", kata pemandu acara.

Waktu sudah berhenti, kami pun sudah mendapatkan barang tukarannya masing-masing. Ada yang beruntung sekali karena mendapat kaos branded mahal dari teman saya yang memang dari keluarga berekonomi baik, ada juga yang menyesal mendapat sabun mandi batang dibungkus lakban.

"Wehh, punya siapa ini?", semua tertawa pecah.
saya pun langsung menundukkan kepala dan mengumpat di balik badan teman yang ada di samping saya, yaa saat itu saya dipertemukan dua perasaan antara malu dan bahagia ikut menertawakannya.

Saya sendiri pun tidak kalah sialnya, mendapatkan bungkusan kerucut mirip cone es krim gocengan. Tapi, bodohnya.. saya sudah menyimpulkan sebelum membuka isi bungkusan tersebut. Saya kira isinya hanyalah penghapus atau rautan kecil. Karena saat dikocok isinya 'koclak', saya tidak yakin jika isinya istimewa. Tanpa pikir panjang saya buka bungkusan tersebut, dan ternyata isinya berupa.. JENG JENG JENG JENG *backsound.

 uang 20.000 rupiah. *deg

"loh kok?, kok bisa? (dalem hati), kepala saya penuh pertanyaan, sangat penuh.
bisa kebetulan gini sih? Ya Allah. 

Nyaris saya meneteskan air terjun, air ujan, air liur, air mata. Dikarenakan muka saya yang datar ini, maka sulit bagi saya untuk mengekspresikan kejadian yang di luar nalar ini terjadi. Ya, iya.. memang benar saya ini tidak layak menjadi aktor, mungkin lebih pantas menjadi pemeran pembantu pria.

pasti banyak yang nanya, "terus uangnya nanti dipake buat apa?" *pede bat lo

Tidak sedikit dari mereka yang menebak-nebak isi kado tersebut penghapus atau rautan haha, namun saya tidak peduli apa pun itu mudah-mudahan bermanfaat, alhamdulillah ternyata sangat bermanfaat sekali untuk ongkos saya pulang ke Jakarta.

***


Acara pun sudah selesai dan waktunya pulang ke rumah masing-masing, alhamdulillah uang 20.000 rupiah dari tuker kado tersebut tidak terpakai untuk pulang dikarenakan ada teman saya yang mengajak pulang bareng dan kebetulan kita satu arah.

"Bib, lu pulang ke mana?", tanya si H
"Gw pulang ke Tangerang mepet Jakarta cuy"
"Wah, yaudah bareng gw aja, kebetulan tuh satu arah, gw juga bawa mobil, tapi nanti kita ke rumah saudara dulu mau jemput ibu"
"Gapapa tuh? gw enggak enak sama keluarga lu"
"Yaelah, gapapa lah. Dari pada lu ngeteng terus harus minjem duit dulu sana-sini
"i.. iyadah".

Tawaran teman saya pun, saya terima dengan rasa senang dan tidak tenang. Orang yang kurang bersosial seperti saya ini, sulit sekali beradaptasi dengan orang baru, apalagi orang yang lebih dewasa. 

Alhamdulillah..
"Makasih ya cuy", kata terima kasih dan bersyukur saya

Jadi, uangnya enggak kepake buat pulang deh. Pada akhirnya uang tersebut saya pakai untuk makan esok hari.


Tak henti-henti saya mengucapkan rasa syukur dan selalu ber-husnuzon kepada Allah SWT, karena saya yakin dengan hadits yang berbunyi :

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي يَعْقُوبَ الْكِرْمَانِيُّ، حَدَّثَنَا حَسَّانُ، حَدَّثَنَا يُونُسُ، قَالَ مُحَمَّدٌ هُوَ الزُّهْرِيُّ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: ” مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ ”

“Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abi Ya’quub Al-Kirmaaniy[1]: Telah menceritakan kepada kami Hassaan[2]: Telah menceritakan kepada kami Yuunus[3]: Telah berkata Muhammad  ia adalah Az-Zuhriy[4] – , dari Anas bin Maalik radliyallaahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 
"Barang siapa yang suka diluaskan rizkinya dan ditangguhkan kematiannya, hendaklah ia menyambung silaturahim” [Shahiih Al-Bukhaariy no. 2067]."
    Pelajaran yang diambil dari pengalaman saya ini adalah: 
1. Selalu berprasangka baik (husnudzon) 
2. Allah SWT memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan

Komentar

Posting Komentar