Reward and Punishment

Reward berasal dari bahasa inggris yang berarti penghargaan atau hadiah. Reward menurut istilah adalah penghargaan, hadiah atas keberhasilan dalam melakukan sesuatu, atau bentuk mengapresiasi/melakukan penilaian (misalnya terhadap karya seni). Biasanya reward diberikan ketika ada event tertentu seperti perlombaan, yang mana di dalam sebuah perlombaan diadakan untuk memperebutkan sebuah hadiah yang bisa berupa uang tunai, barang, atau piala. Juara 1 dan juara 2 memiliki nilai dan reward yang berbeda, begitu pun dengan juara 3, dan seterusnya, peraih juara 1 merepresentasikan kepada yang berhasil mendapatkan nilai tertinggi dan terbaik di antara peserta lainnya, dan juara 2 untuk yang nilainya di bawah juara 1, dan seterusnya.

Punishment berasal dari bahasa inggris yang berarti hukuman, yang bisa diartikan sebagai teguran dikarenakan melakukan sebuah pelanggaran dalam sebuah peraturan yang berlaku baik secara tertulis maupun tidak tertulis. Ada yang bilang 'peraturan dibuat untuk dilanggar', namun statment tersebut bisa dipatahkan karena lahirnya sebuah peraturan dikarenakan adanya pelanggaran atau perlakuan yang melenceng dari segi norma maupun moral. Peraturan menerapkan hukuman bagi pelanggar, karena diberlakukannya hukuman, maka orang-orang pun tidak akan ada yang melanggar peraturan tersebut, tujuan dari hukuman tersebut untuk menertibkan dan mendisiplinkan kegiatan di sebuah lembaga atau tempat agar tidak terjadi pelanggaran yang kedua kalinya, ada pepatah mengatakan 'hanya keledai yang jatuh ke lubang yang sama'.

"nih, buat kamu.."

Semangat melakukan suatu hal sebagaimana manusia pada umumnya biasanya termotivasi atau ke-triggered dan ada stimulus dari faktor luar, bahasa gampangnya 'kalau ada maunya aja'. Stimulus atau dorongan tersebut bisa disebut dengan reward atau punishment.

Dulu waktu saya SMA, saya sekolah di sekolah Islam berasrama, akrabnya Pondok Pesantren. Di sana tentunya menerapkan peraturan layaknya sekolah pada umumnya, namun yang membedakan peraturannya pasti lebih banyak dibanding sekolah pada umumnya yang hanya dari jam 7 atau 8 pagi sampai 12-02 siang, sedangkan Pesantren merupakan sekolah berasrama dan pastinya kita terikat oleh berbagai macam peraturan selama 24 jam, dari bangun tidur sampai tidur lagi. 

Di Pesantren, saya berangkat dari ketidaktahuan tentang apa-apa seperti gelas kosong tanpa air, di setiap kegiatan kami dibimbing oleh senior yang selalu membawa selang di tangannya yang membentuk wibawa senior tersebut atau mungkin lebih ke menakutkan dibanding berwibawa, ini bisa dibilang shock culture bagi saya pribadi, bukan hal biasa yang terlihat sebelum masuk pesantren tempat saya tinggal. Saya dan teman-teman digiring ke masjid untuk salat layaknya hewan ternak, tapi bukan itu yang ingin saya bahas, apalagi menjelek-jelekkan Pesantren. Yang ingin saya bahas adalah pemandangan behavior di lingkungan Pesantren ini. Mungkin saya dan teman-teman bisa saja leha-leha atau lalai pergi ke masjid, bagi yang di rumahnya tidak terlalu ditekankan untuk salat di masjid, karena tidak ada yang mengajak pergi ke masjid. Tetapi di Pesantren dengan 'ditakut-takutinya' kami oleh senior yang memegang selang, itu merupakan stimulus untuk pergi salat ke masjid, karena takut dihukum. 

Begitu pun saat diadakannya sayembara ibadah, ini merupakan program tahunan Pesantren yang Kiai/guru kami di Pesantren buat, program ini sengaja dibuat untuk memotivasi agar santrinya/muridnya terbiasa melakukan ibadah-ibadah sunnah di Pesantren maupun di luar Pesantren selama 40 hari, dengan imbalan atau reward/penghargaan makan-makan gratis sepuasnya di restoran Jepang bersama Kiai. Kesan pertama ikutan sayembara ibadah 40 hari kenyataannya memang hanya ingin bisa makan-makan gratis di restoran Jepang bersama Kiai, antara ngalap berkah atau memang sudah sangat bosan sekali makan dengan lauk pauk ala kadarnya di Pesantren, kalau enggak tempe ya tahu, tapi makin kesini karena memang sudah terbiasa puasa makanan tak bernyawa, salat berjamah 5 waktu di belakang imam, salat mutlak 100 rakaat, dll, selama 40 hari, kita pun pada akhirnya saat melakukan ibadah-ibadah itu lagi menjadi terbiasa dan tidak mengharap apa-apa lagi, bahkan pahala, jadi ibadah yang kita lakukan semata-mata karena kemauan sendiri untuk beribadah dan karena cinta kepada Tuhan.

Akhir-akhir ini pun saya sedikit merasa belum menemukan stimulus tersebut, ya, sifat yang manusiawi ini kadang merepotkan dan semau-maunya mengganggu pikiran saya. Teman-teman sepantaran saya hampir semua memiliki pacar, sedang saya tidak atau belum. Pernah teman dekat saya bilang, "cuy, lu sewaktu-waktu pasti bakal butuh yang namanya pacar, cepat atau lambat lu butuh penyemangat yang selalu ada di sisi lu dalam mengarungi samudera kehidupan yang selalu berputar, kadang di atas kadang di bawah, kadang semangat kadang malas. Pacar merupakan stimulus di saat lu lagi di bawah", kata teman saya. Tapi, kalau udah putus gimana? masih semangat? berarti semua kegiatan tergantung pacar nyemangatin atau enggak? enggak konsisten dong?. Ada ribuan pertanyaan yang selalu terbayang-bayang di langit-langit kamar sebelum tidur, setelah teman saya menyarankan punya pacar

gimana enggak terbayang terus, saya yang sampai saat ini belum tahu rasanya pacaran, 20 tahunan lebih loh?, terlebih teman saya yang menyarankan ini orangnya cerdas dan rasional dalam berpikir. 

Sebagai manusia kita hanya lah perencana, Tuhan yang menentukan. Saya pernah mendengarkan perbincangan ustadz-ustadz di YouTube, dan salah satu ustadz bilang, "bahwasannya rezeki dan jodoh itu urusan Tuhan, kamu enggak usah ikut campur, cukup lakukan yang terbaik dalam hidupmu, salat 5 waktu jangan ditinggal, jangan melakukan dosa, begitu saja sudah cukup, hidup itu jangan kamu bawa ribet". Sejenak saya menatap langit-langit kamar setelah mendengarkan perbincangan di YouTube, "loh, berarti pacar, reward, punishment dan stimulus lainnya hanya bersifat sementara, setelah saya konklusikan semua berdasarkan empiris. Kebahagiaan yang bersifat sementara, hanyalah bertujuan sebagai pendorong atau pemantik manusia di awal ia ingin melakukan sesuatu, agar terbiasa dan istiqamah."

Dalam agama Islam di akhirat nanti, atau kehidupan setelah mati ada yang namanya Surga dan Neraka, anggap saja Surga sebagai Reward dan Neraka sebagai Punishment. Dan Tuhan sudah lebih paham bahwa manusia butuh reward dan punishment di awal menjalani aktivitasnya. Ya memang sangat manusiawi, yang tidak baik itu jika terus-terusan bergantung pada reward dan punishment, apa jadinya jika semua segala macam stimulus termasuk reward dan punishment itu tidak ada?.

Ada kisah menarik seorang sufi wanita yang bernama Rabi'ah Al Adawiyah, suatu hari Rabi'ah membawa air di tangan kiri dan obor di tangan kanan; 

"Kemana engkau hendak pergi Rabi'ah," tanya seseorang kepadanya,

"Saya mau ke langit untuk membakar Surga dan memadamkan api neraka, agar keduanya tak menjadi sebab manusia menyembah-Nya.

Sekiranya Allah tak menjadikan pahala dan siksa, masih adakah di antara mereka yang menyembah-Nya?

Jika reward dan punishment tidak ada, masihkah ada orang-orang bersemangat menjalani aktivitas? 

Jika surga dan neraka tidak ada, masihkah ada orang-orang bersemangat beribadah menyembah Tuhannya? 

Kira-kira kalau tidak ada lembaga pendidikan yang menjanjikan hadiah (ranking) gitu masih ada gak ya yang berlomba-lomba mendapatkannya bahkan sampai melakukan hal ekstrim, mencontek misalnya? 

Kira-kira kalau tidak ada agama yg menjanjikan surga gitu masih ada enggak ya yang berlomba-lomba mendapatkannya bahkan sampai melakukan hal ekstrim, terorisme misalnya?

Sebodoh itukah manusia jika terperdaya oleh nafsu dan ego?

  

Komentar