Anime dan Manga Lebih Dari Sekadar Fiksi: Mengambil Pelajaran Dari Hal Kecil dan Mengidolakan Tanpa Overfanatik

Masih blom bisa move on dari diskursus ini, 2 jam yang gokil bat. Banyak ilmu dari hasil internalisasi manga & anime, berasa kuliah sejarah, budaya, sastra, hubungan internasional, sosial-politik, filsafat, dll, dalam satu ruang perwibuan.

Jadi, ceritanya berawal dari ketidaksengajaan saya menemukan postingan instagram @pnmedia yang membahas seputar anime, manga, dan budaya jejepangan lainnya. Tidak seperti akun-akun yang membahas anime/manga lainnya yang hanya membahas melalui quotes, spekulasi teori-teori, dan infografik. Namun, dalam akun @pnmedia ini mereka menyajikan tulisan-tulisan yang ilmiah nan ciamik, sehingga membuat anime/manga yang biasa dianggap sepele oleh orang-orang menjadi hal serius yang memang relate dengan kehidupan sehari-hari. Akun tersebut menumpas stigma buruk dari masyarakat terhadap idola mereka (baca: anime & manga) dengan memberikan sajian hingga kajian seputar anime/manga untuk menjawab tantangan kehidupan.

Untuk memperluas jangkauan  dan relasi akun @pnmedia bekerja sama dengan @madrasahqohwah membuat kajian kecil-kecilan namun penuh akan sarat ilmu, gagasan cinta, dan kemanusiaan. Pada akhirnya saya kepo dengan kajian yang mereka buat, dari judul yang menarik saya berangkat masuk ke dalam grup WhatsApp yang sudah ramai teman-teman pegiat diskusi, literasi, budaya, dan para wibu.

Waktu dimulainya diskusi pukul 19.30 yang mana saya ada kegiatan setoran hafalan. Di samping saya juga mahasiswa plus mahasantri paruh waktu, saya beralasan sedang zoom seminar alih-alih ikut diskusi zoom yang menarik ini, hehe (jangan ditiru ya)

Sepanjang jalannya diskusi saya berspekulasi bahwasannya dalam hal sekecil atau sesepele apapun yang dianggap orang, juga bisa diambil pelajarannya. Contoh: hobi nonton film/anime. Meskipun kata orang kekanak-kanakan atau buang waktu saja, namun kita sebagai penikmatnya dapat mengambil pelajaran di setiap episode/chapternya. Kita tidak sadar, secara tidak langsung karakter kita terbentuk, pantang menyerah, kritis, disiplin, ramah, humoris, karena saya pun merasa sebagian karakter saya terbentuk dari apa yang saya tonton dan saya baca melalui tokoh-tokoh anime tersebut.



Fanatisme terselubung:

Waktu itu saya pernah menanyakan ke teman-teman SMK perihal yang mereka suka dan memberikan alasannya. Ada yang suka drakor, traveling, hiking, menulis, membaca, listening music, k-pop, dll. Alasan mereka positif semua, dalam hal ini kita tidak boleh menilai secara subjektif, karena kita tidak tahu mereka semangat belajar, bersosialisasi, kritis itu terbentuk dari mana. Bisa jadi pembentukan karakter mereka dari hal yang mereka suka.

Yang terpenting jangan sampai overfanatik. Dalam hal menyukai hobi, percintaan, berorganisasi, bersosialisasi, dll, apapun itu kalau sudah overfanatik susah buat objektif, mau muji idola sendiri aja pake ngerendahin idola orang lain. Tak peduli benar salah, nyata atau fitnah, yang mana logika tertutup rasa cinta dan benci yang berlebih. 

"Idealisme harus dibarengi humanisme. Jika tidak, maka jadinya otoritarianisme. Garis keras/radikal."

Ada statment bunyinya gini, "kalau kamu tidak suka durian, jangan bilang durian itu tidak enak di depan orang yang sedang menikmati durian". Cukup dipendam saja perasaan tersebut agar tidak terjadi perselisihan yang tidak seharusnya. Ini merupakan sikap bijak bestari dan dewasa dalam perasaan, berusaha semaksimal mungkin untuk meminimalisir perselisihan karena hal sepele.

Jadi inget petuahnya Patrick Star: "Pemujaan yang berlebihan itu enggak baik"

Seperti halnya teroris ingin mendapatkan surga dengan dalih jihad, melakukan bom bunuh diri di dalam kafe atau gereja. Semua berawal dari dipengaruhi oleh sifat overfanatik terhadap beragama dan ingin mendapatkan surga melalui bom bunuh diri, yang katanya syahid.

Sifat overfanatik ini sifatnya menutup diri, tidak mau berempati terhadap apa yang mereka tidak suka, dan anti kritik. Anti kritik adalah salah satu sifat pengecut yang merujuk pada kemunduran. Ketika sudah anti kritik akan merasa diri paling benar dan orang-orang yang merasa paling benar adalah orang-orang yang salah pada dasarnya. Karena kebenaran sifatnya relatif. 

Insiden fanatisme seperti ini pun tidak hanya terjadi pada penyuka hobi saja, namun juga sering terjadi saat pemilu presiden dan wakil presiden. Ketika presiden yang terpilih bukanlah orang yang ia pilih, sepanjang jabatan presiden tersebut ia menutup diri dan tidak percaya terhadap harapan-harapan atau visi misi yang presiden itu orasikan.

Kesimpulannya, boleh kita mengidolakan sesuatu (baca: anime, drakor, dll), berspekulasi kalau yang kita idolakan itu positif. Namun, jangan sampai menutup diri dari sesuatu yang tidak kita suka.

Terimakasih para nakama yang telah membahas dunia pervvibuan melalui perspektif yang luar biasa. Anime dan manga lebih dari sekadar fiksi. 🔥🔥

Humanity elevates humanism.


Dokumentasi:





Komentar