The Power of Social Media in Pandemic Era: Peran Influencer dan Menjadi Bijak Bestari Dalam Bersosmed

Pandemi sampai saat ini tak kunjung berakhir, entah sampai kapan harus terus-menerus ngerem di pojok kamar sambil selimutan dengerin spotify atau nonton film serial di netflix. Namun, itu bukanlah sebuah masalah besar bagi seorang introvert seperti saya.

Hari demi hari kegiatan saya bisa dibilang monoton, bahkan weekend sekalipun. Namun, tidak menutup kemungkinan saya diam saja. Saya sendiri aktif menulis di blog maupun di platform media sosial lainnya, hobi saya memantau kegiatan/aktivitas dan obrolan orang-orang di dunia nyata maupun di dunia maya, dari obrolan cara merawat kucing yang terbilang receh, chill, sampai obrolan perdebatan isu agama, kemanusian, dan kesetaraan.

Sebagai introvert atau bisa dibilang ANSOS, saya prefer bersosial di media. Bukan maksud apa-apa, karena bisa mengatur mau dipublikasi atau privasi hanya untuk orang-orang tertentu saja, yang menurut saya perlu untuk melihat posting-an saya. Dengan adanya sosial media saya dapat mencurahkan keresahan dan emosi saya di sana tanpa harus terlihat oleh orang yang tidak perlu melihat. Begitu pun semua orang banyak yang sama melakukannya, bahkan sampai mencari uang pun di sosial media.

Sumber: davidbuckingham.net


Peran Influencer

Influencer dalam google translate bermakna "a person or thing that influences another" atau diartikan dalam bahasa Indonesia adalah "pemberi pengaruh", orang yang dapat memengaruhi sekitarnya. Seperti memberikan endorsement terhadap produk jualan dari online shop (olshop), sebuah toko online (olshop) mempercayakan kepada seorang selebritas/pesohor yang memiliki followers/pengikut banyak di sosial medianya, dengan cara membayar dengan uang atau memberikan produknya secara gratis atas penghormatan terhadap jasa pesohor tersebut yang telah menarik banyak pelanggan untuk olshop. Dari sini ada benefit di antara kedua belah pihak.

Seorang influencer juga merupakan panutan atau tokoh publik, yang mana kegiatan sehari-harinya pun membuat orang-orang di sosial media ini penasaran. Kak coba dong nge-vlog atau roomtour!, pengen lihat kamarnya kek gimana? kok bisa ya followers-nya banyak? Padahal cuma modal muka cakep doang, tapi gak ada skill-nya..

Sikap maupun perkatan dari seorang influencer bisa dikutip sebagai dalil, lebih parahnya lagi adu domba, meskipun dirinya bukanlah seorang Nabi yang merupakan manusia sempurna, influencer juga manusia biasa seperti kita, yang kadang berbuat salah maupun benar, namun telah di-nabikan oleh NETIZEN.

Berbagai komentar di dalam kolom komentar sosial medianya ada bermacam-macam. Ada yang mendukung, memberikan semangat, mencaci, nyinyir, dan julid. Fenomena mengagungkan panutan secara berlebihan merupakan menjatuhkan atau mencoreng nama baik panutan tersebut dengan gaya, begitu kira-kira perkataan meme Buzz Lightyear dalam animasi Toy Story hehe. Atau yang dikatakan Mitsuki kepada Boruto dalam serial Boruto: Naruto Next Generation:


Scene ini ketika Boruto dianggap menjadi pahalawan desa Konoha dan diwawancarai dalam stasiun TV, sampai-sampai dia lupa diri ketika dipuji-puji dan menjadi idola warga desa.

Ya, kenapa bisa dikatakan begitu, akar dari hal tersebut berawal dari sikap fanatisme. Terlalu berlebihan dalam mengidolakan seseorang, suka berharap lebih pada idolanya.

"Rasa cinta yang berlebih bisa membutakan kejiwaan dan punya potensi cemburu yang besar jika dikecewakan, yang mengakibatkan rasa benci berlebih".

Dari sini sebagai influencer atau netizen, harus memiliki batasan dan sikap dewasa nan bijak bestari dalam bersosial dalam dunia nyata maupun dunia maya.


Menjadi Bijak Bestari Dalam Bersosmed

Sikap bijak yang perlu dimiliki dalam bersosmed:

1. Tidak mudah menilai sesuatu dengan hanya dilihat sebelah mata

2. Tidak fanatik buta terhadap idola, tidak suka maka tinggalkan, tidak perlu meninggalkan jejak komentar negatif yang memicu perselisihan

3. Gunakan sosmed untuk sekadar mencari informasi maupun referensi

4. Tidak ikut-ikutan berargumen, kalau tidak tahu permasalahannya

5. Gunakan sosmed untuk belajar memahami situasi maupun keadaan, menulis kejadian,

6. Berfikir sebelum bertindak

7. Lebih baik diam daripada ikut berdebat namun tidak paham, asal nyerocos

8. Tidak terlalu berharap terhadap orang yang kita idolakan, ditakutkan mengecewakan jika diberikan harapan palsu

9. Selalu utamakan bertabayun atau mencari klarifikasi yang sebenarnya terjadi

10. Baca, baca, baca, baca, baca, baca dengan teliti. 


Dari rangkuman di atas, perlunya ada batasan umur dalam bersosmed, peran orang tua dalam mengasuh anak dalam zaman modern ini sangat penting untuk menjaga pandangan anak dari konten-konten dewasa yang terkesan eksplisit dan vulgar. Karena dalam sosial media ini jika tidak di-setting terlebih dahulu, maka tidak ada saringan dalam menyajikan konten, di mana orang-orang bisa mengakses apa pun itu di internet.

Di zaman yang serba canggih dan modern ini banyak sekali berita terkait para generasi penerus bangsa yang bobrok akhlaknya. Semakin majunya perkembangan teknologi, pun dibarengi semakin cerdasnya sumber daya manusia, namun kita tidak bisa menutup kemungkinan, bahwasanya di balik itu semua terjadi kemerosotan Iman, degradasi akhlak dan moral. Ini terbukti dengan realitas kehidupan yang ada, lingkungan di sekitar, maupun di berbagai macam berita TV dan sosial media. Banyak generasi penerus yang sering tawuran, berkonflik, pelecehan seksual, membuat kerusuhan dan kerusakan. Mereka sebagai generasi penerus yang seharusnya menjadi kebanggaan masyarakat, agama dan bangsa. Mereka dididik dengan baik agar menjadi generasi yang baik dan dapat dibanggakan. Tetapi fakta berkata lain, malah mereka yang berpendidikan yang sering melakukan tawuran, konflik, membuat kerusuhan dan kerusakan bahkan demonstrasi yang membabi buta. Yang hal itu tidak sepatutnya dilakukan oleh orang-orang sedang berproses dalam pendidikan.

Dari sekian banyaknya konflik yang terjadi, dapat kita tarik akar permasalahannya rata-rata adalah fanatisme. Banyak kita temukan di platform-platform media sosial, yang mana menjadi wadah berkumpulnya sumber informasi tanpa batasan. Media sosial sebagai wadah freedom of speech, tempat orang-orang bersosial tanpa harus menunjukkan identitas aslinya. Banyak sekali forum diskusi dibuka untuk umum, dari berbagai macam kalangan, muda maupun tua, berilmu maupun tidak, beragama maupun tidak beragama, semua berkumpul dalam forum tersebut, untuk memperdebatkan hal sepele yang diseriusin dan hal serius yang disepelekan. Mulai dari sana bermunculan orang-orang yang merasa paling benar, anti-kritik, memaksakan argumen tanpa didasari ilmu dan kode etik berargumen.

Dalam fenomena bersosial media, sebagai manusia kita mesti bersikap adil terhadap diri sendiri, seperti memiliki batasan atas kehendak dan kontrol diri kita. Dalam hal berpendapat, mendukung, menyukai, dan apa pun itu jangan sampai overfanatik, kalau sudah overfanatik susah untuk menilai objektif, ingin memuji idola sendiri atau mempertahankan argumen sendiri saja pakai merendahkan idola orang lain atau argumen orang lain yang mana kita tidak sukai dan menutup diri atas hal tersebut. Tak peduli benar salah, nyata atau fitnah, yang mana logika tertutup rasa cinta dan benci yang berlebih. Idealisme harus dibarengi humanisme. Jika tidak, maka jadinya otoritarianisme. Garis keras/radikal.

Fenomena fanatisme sering terjadi pada orang-orang yang suka mengkelompok-kelompokkan diri mereka dalam suatu paguyuban, bahkan dalam hal sepele pun masih saja berselisih antara dua kubu.

Ada statment bunyinya gini, "kalau kamu tidak suka durian, jangan bilang durian itu tidak enak di depan orang yang sedang menikmati durian". Cukup dipendam saja perasaan tersebut agar tidak terjadi perselisihan yang tidak seharusnya. Ini merupakan sikap bijak bestari dan dewasa dalam perasaan, berusaha semaksimal mungkin untuk meminimalisir perselisihan dalam hal sepele sekalipun.

Saya teringat petuahnya Patrick Star dalam film kartun Spongebob Squarepants: "Pemujaan yang berlebihan itu tidak baik", setiap yang sifatnya berlebihan itu tidak baik, contohnya makan, makan merupakan asupan untuk keberlangsungan hidup makhluk hidup, namun apabila berlebihan maka timbul penyakit.

Sifat fanatisme ini sifatnya menutup diri, tidak mau berempati terhadap apa yang mereka tidak suka, dan anti kritik. Anti kritik adalah salah satu sifat pengecut yang merujuk pada kemunduran. Ketika sudah anti kritik akan merasa diri paling benar dan orang-orang yang merasa paling benar adalah orang-orang yang salah pada dasarnya. Karena kebenaran sifatnya relatif. 

Fenomena fanatisme seperti ini pun tidak hanya terjadi pada penyuka hobi, idola, dan dalam beragama saja, namun juga sering terjadi saat pemilu presiden dan wakil presiden. Ketika presiden yang terpilih bukanlah orang yang ia pilih, sepanjang jabatan presiden tersebut ia menutup diri dan tidak percaya terhadap harapan-harapan atau visi misi yang presiden itu orasikan.


Kesimpulan

Kita boleh mengidolakan sesuatu, berspekulasi kalau yang kita idolakan itu positif, dan berpegang teguh pada argumen kita. Namun, jangan sampai menutup diri dari sesuatu yang tidak kita suka. Alangkah baiknya, contoh kecil misalnya ketika membaca atau menonton berita kita harus membaca/menonton berita yang pro maupun kontra, untuk sebagai bahan kajian selanjutnya. Jangan sampai memandang sebelah mata, yang mengakibatkan fanatik buta dan termakan berita palsu/hoax.

Salah satu akun sosial media yang telah memberikan banyak ilmu dan dampak besar bagi saya adalah www.indozone.id. Sebagai influencer, indozone telah memberikan pengaruh besar kepada masyarakat dan saya pribadi, karena giatnya memberikan informasi-informasi dunia yang masyarakat butuhkan, dan diiringi kebijaksanaan kita dalam bersosmed. 


Komentar